Saturday, July 26, 2014

Kosong


Love runs deep
deeper than the darkest see
so drop your guard
why do you have to be so hard
[Jasmine Thompson]


Setiap kali lebaran sudah nyaris sampai, hati saya pun seluruhnya nyaris kosong. Saya banyak sekali mengingat hal-hal yang sudah lewat. Mungkin ini karena mama saya meninggal satu minggu sebelum bulan puasa datang 2 tahun yang lalu. Dan saya harus melewati ramadhan tanpanya, dan mengahadapi seluruh dari sisa idul fitri yang saya miliki; tanpanya.

Ada kesedihan yang tidak bisa saya jelaskan seperti apa rasanya. Saya sebenarnya bukan tipikal manusia yang suka memikirkan hal-hal pilu yang terjadi dalam hidup saya. Tapi kehilangan ibu itu melebihi pilu. Dan saya pun sebenarnya enggan mendramatisir kehilangan saya yang satu ini, karena ada begitu banyak anak lain yang bahkan sudah yatim piatu. Dan mereka baik-baik saja. Atau mungkin sebenarnya mereka tidak lah sedang baik-baik saja. Mereka masih berusaha menjadi baik-baik saja tanpa orangtua mereka. Usaha yang mereka pun tak tahu hingga kapan bisa diakhiri. Seperti saya di detik ini.

Kalau saya bisa berdoa untuk kamu, saya harap kamu tidak perlu pernah mengalaminya
Kalau saja saya diberi satu permohonan, saya ingin ibu di seluruh dunia bisa hidup selamanya untuk anak-anak mereka

Ah ma, mungkin saya hanya sedang kangen 
Anakmu yang cengeng ini masih saja keras kepala untuk mengingat segalanya

Atau mungkin ini karena begitu banyak saya melihat orang-orang yang mempersulit hidup mereka hanya karena apa yang mereka yakini benar. Lalu mengesampingkan perasaan begitu banyak manusia lain yang sedang memeluk kehilangan mereka. Merasa bahwa apa yang sedang mereka perdebatkan saat ini, jauh lebih penting dari berbagi pelukan. Dan bahwa kebencian yang sedang mereka saling tebar, membuat anakmu ini merasa begitu kecil. Membuat anakmu ini merindukan pelukanmu yang tak sekali pun perlu syarat dan pamrih.

Ah ma, ada begitu banyak cinta dan penerimaan yang saat ini ditempeli harga juga perjanjian
Dan mereka membuat anakmu merasa semesta ini begitu kosong

Tapi Ma, bukankah tanpa kekosongan, manusia tidak akan pernah mengerti baiknya saling mengisi?
Kenapa begitu banyak yang memaksakan diri mereka untuk jadi yang paling kuat di antara yang lain
Bukankah tanpa kelemahan yang mereka punya, maka tak ada ruang bagi cinta untuk mengisinya?
Bukankah selama ini semesta mampu bertahan, karena makhluk yang mendiaminya saling berani mengesampingkan ingin juga emosi mereka sendiri?

Bahwa mereka begitu memahami, tak ada yang benar-benar 'benar' selain pencipta-Nya
Dan bahawa mereka begitu percaya, tak ada yang benar-baner 'kuat' selain keberanian untuk saling menerima kelemahan

Ah ma, mungkin saya hanya sedang kangen kamu.


Biar Tuhan jaga kamu baik-baik. 
Sebaik lengan ibu yang melingkari tubuh ini, saat kecil.
[falafu]


Monday, July 14, 2014

Tuhan, saya tidak meminta banyak


Cintailah; dia yang mengaku mencintai apa yang tidak kamu miliki, karena dia bersuka-cita untuk mengisi ketiadaan itu. [fa]


Kenapa masih saja banyak yang begitu suka menuntut kesempurnaan, memang kalau sudah sempurna, apa lagi yang bisa dipeluk oleh mereka yang menyayangimu? Kenapa masih saja banyak yang begitu ingin didengarkan, tanpa peduli mendengarkan kembali. Kenapa masih saja banyak yang tak bersedia menerima perbedaan; yang berseberangan selalu salah, dan yang tak bersedia menurut sudah sepantasnya dibuang ke laut.

Kenapa masih saja, saya mau menuliskan kalimat kosong di atas. Tentu saja semua tahu, kalau jawabannya masih sama. Karena mereka masih manusia, dan karena saya masih manusia.

*bertahan untuk tidak menghela nafas panjang*

Tuhan, saya tidak meminta banyak. Ampunilah diri saya karena masih kerap keras kepala untuk memperdebatkan hal-hal yang baik—tapi dengan orang yang salah.

Tuhan, saya tidak meminta banyak. Ampunilah diri saya karena masih kerap keras hati untuk mempertanyakan hal-hal yang sederhana—tapi dengan orang yang tuli.

Tuhan, saya tidak meminta banyak. Semoga kelak, dia yang dengan suka-cita saya ingin isi kekurangannya; bersedia mencintai kembali apa yang tidak saya miliki.


Aamiin. 

Tuesday, June 24, 2014

I Owe You

“Jalanilah semua yang sedang Tuhan berikan padamu dengan sepenuh hati, suka atau tidak suka pada hal yang sedang kamu hadapi itu, kalau kamu menjalaninya dengan sungguh-sungguh, maka tidak ada hal yang sia-sia.”

Katanya, kita harus menjalani apa yang kita sukai dan cintai saja. Katanya, lakukanlah apa yang kamu suka, kerjakanlah apa yang benar-benar menjadi panggilan hidupmu. Jangan buang waktu dengan hal yang tidak kamu sukai. Karena hidupmu akan terbuang sia-sia.

Tapi pagi itu, seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, mengatakan pada saya; bahwa menjalani apa pun, walau itu hal yang tidak kamu sukai—tapi bila dijalani dengan sungguh-sungguh, maka tidak ada yang percuma. Pasti ada hal yang kamu dapat, pasti ada sesuatu yang baru yang datang dalam dirimu, dan itu pasti hal baik. Karena kamu menjalaninya dengan hatimu, dengan sungguh-sungguh, dan segala yang sungguh-sungguh, pasti punya keikhlasan di dalamnya. Tidak sempat mengeluh, tidak merasa perlu mengumpat nasib.

Dan pagi itu, seseorang yang sama sekali tidak saya kenal mengubah cara pandang saya akan hidup ini. Akan sesuatu yang selama ini selalu saya yakini, bahwa saya hanya boleh menjalani dengan bahagia, pekerjaan yang saya sukai. Dan pikiran seperti itu, tanpa saya sadari mengkotak-kotakkan hidup saya selama ini, membatasi ruang gerak saya untuk mempelajari hal lain yang bahkan belum pernah saya coba.

Dia adalah Azrul Ananda, CEO dari Jawa Pos, dan juga DBL Indonesia. Anak dari seorang Dahlan Iskan, menteri BUMN yang saat ini masih menjabat. Seorang pemuda yang amat lugas dan terbuka saat bicara. Salah satu narasumber di acara pagi radio yang saya produseri.

Gaya bicaranya, sangat mirip dengan ayahnya, straight to the point dan terkesan agak blak-blakkan. Saat saya tanya apa lagu favorit yang mungkin bisa kami putar, dia dengan renyah menjawab; wah saya sukanya musik metal, ngga mungkin juga diputerin di radio.

Azrul ini adalah anak laki-laki satu-satunya dari Dahlan Iskan, yang besar di Amerika. Bersekolah di sana bersama adik perempuannya. Menjadi anak dari orang tua yang berkecukupan tidak lantas membuat Azrul tumbuh menjadi anak manja yang hanya bisa bergantung pada uang orang tuanya saja.

Azrul bersekolah dengan gaya hidup yang biasa-biasa saja di US, tinggal bersama orangtua asuh, bahkan mengenyam bangku kuliah dari uang beasiswa. Pulang ke Indonesia di tahun 2010, Azrul yang saat itu meminta untuk bekerja di kantor Jawa Pos milik sang Ayah, sempat ditolak mentah-mentah.

“Kebetulan saya punya hubungan yang unik dengan orang tua saya, saya dan ayah saya hampir tidak pernah mengobrol. Karena sejak saya kecil, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kami hanya saling menyapa sesekali di rumah. Itu kenapa, hubungan saya dengan ayah saya sampai saat ini, lebih cenderung ke hubungan professional.”

Dahlan Iskhan menolak anaknya sendiri untuk bekerja di Jawa Pos, hingga akhirnya saat itu, Azrul meminta izin untuk melamar kerja di penerbitan Koran lain, yaitu Kompas—yang merupakan saingan terkuat Jawa Pos saat itu. Dahlan akhirnya menerima Azrul untuk bekerja di Jawa Pos, sebagai... wartawan.

“Saya berasal dari keluarga yang sangat cukup bahkan bisa dibilang berlebihan, tidak ada tuntutan bagi saya, bahwa saya harus sukses. Saya tidak jadi siapa pun, saya ngga akan mati kelaparan. Tapi saya ingin jadi sesuatu. Dan butuh waktu 12 tahun, sejak saya pulang ke Indonesia, hingga saya akhirnya bisa menjabat sebagai direktur di Jawa Pos.”

Di tangan dingin Azrul, Jawa Pos berkembang menjadi Koran nomor satu di Indonesia. Bahkan berhasil meraih Newspaper of The Year, World Young Reader Prize 2011 di Wina 12 Oktober 2011.

“Ayah saya selalu bilang, kalau nilaimu cuma 7, ngapain saya nerima kamu. Kalau nilaimu 8, tapi ada orang lain yang bukan anak saya, punya nilai 7.5, saya lebih baik kasih kerjaan ke dia. Itu kenapa, kalau nilai orang  lain 7, nilaimu harus 9.”

Di tahun saat Azrul tumbuh, kondisi Indonesia sedang tidak aman untuk mereka yang punya bisnis di bidang surat kabar. Itu kenapa, orang tuanya, mengirim dia dan sang adik ke Amerika. Azrul mengaku tidak cinta dengan dunia Jurnalistik, tapi dia terbiasa melihat kedua orang tuanya bekerja sejak kecil. Saat ia tinggal di US, orang tua asuhnya pun kebetulan adalah seorang pemilik surat kabar, dan dia juga belajar banyak di sana. Sedang untuk dunia basket, Azrul juga bukanlah seorang atlet, atau penyuka basket—Azrul mengaku bahwa sejak kecil dia adalah penyuka bulu tangkis. Hanya saat di US, Azrul belajar banyak tentang liga basket remaja di sana, dan ilmu itulah yang dia terapkan di Indonesia.

“Kalau saya hanya bergulat di dunia surat kabar atau media, sebesar apa pun hal yang saya hasilkan, selalu akan ada bayang-banyak nama besar ayah saya. Itu kenapa, saya harus menciptakan sesuatu yang benar-benar di luar dunia itu.”

“Saat saya sekolah dulu, untuk mengumpulkan uang tambahan saya bekerja sebagai barista dan juga pelayan. Saya tidak suka pekerjaan itu, tapi saya mencoba menjalaninya dengan sepenuh hati. Baru sebentar bekerja di sana, saya diangkat menjadi supervisor. Itu kenapa, mengerjakan apa pun, bahkan hal yang tidak disukai, apabila dijalani dengan total dan sungguh-sungguh, tidak akan pernah sia-sia. Dan itulah yang saya pelajari. Bahwa tidak ada hal yang sia-sia.”

Itulah yang saya kagumi dari Azrul, berbeda dengan banyak orang yang sudah diwawancarai di program Your Inspiration, yang kebanyakan selalu bicara soal passion dan lakukanlah hal yang kamu cintai, Azrul justru melihat, bahwa apa pun itu, suka atau tidak suka, bukanlah bisa dijadikan dasar bahwa kamu tidak perlu melakukan yang terbaik. Seperti misalnya, saya suka menulis, dan saya harus bekerja di dunia bank. Saya tidak suka bekerja di tempat itu, maka saya bisa terus mengeluhkannya, bekerja asal-asalan, dan meratapi hidup saya.

Dan hal lain yang saya kagumi dari sosok Azrul ialah, bahwa di tengah kenyataan hubungannya dengan orangtua yang tidak begitu dekat, dan sejak remaja harus tinggal jauh dari mereka—bahkan tinggal di negara yang cenderung bebas, tidak lantas membuat dia memilih hidup menjadi manusia yang tidak bertanggung-jawab.

Well, seperti yang kita tahu, berapa juta aja coba anak muda zaman sekarang yang mengatas-namakan kurang kasih sayang dari orang tuanya, lantas jadi pecandu narkoba, bodoh di sekolah, dan memilih jadi manusia tidak berguna. Wasted people.

Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjadi yang terbaik yang kamu bisa, hanya karena kamu sedang menjalani hal yang tidak kamu sukai. Pandanglah segala sesuatu dari sisi yang terbaik. Tuhan, Ia tak pernah luput melihat apa yang kamu kerjakan di dunia ini. Hitungan-Nya, selalu adil. Cinta-Nya, selalu yang paling nyata.

Thank you Azrul, I owe you.