Tuesday, April 14, 2015

Waktu

Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.

Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  

Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 

Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 

Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.


Tuesday, March 24, 2015

Hingga Akhir

@yaysuh

Saya tidak memikirkanmu di setiap waktu. Saya memikirkanmu di setiap doa. - falafu

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Aku tidak ingin menjadi istri yang mempermasalahkan warna kemeja yang kamu pilih. Aku tidak ingin menjadi istri yang mempermasalahkan siapa yang lebih banyak mengalah pada siapa. Aku juga tidak ingin menjadi ibu yang harus bicara lantang, hanya agar didengarkan oleh anak-anak kita. Kita akan membesarkan mereka tanpa memberi mereka ketakutan pada hidup ini. Berjanjilah padaku.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa kamu sedang dicintai. Bahwa kamu punya rumah yang selalu menunggumu pulang. Bahwa kita selalu memiliki jeda yang bisa kita bagi saat bersama di dalamnya. Becerita tentang seberapa banyak manusia menyebalkan yang kamu temui hari ini, dan berapa jumlah lampu merah yang membuatmu lututmu lelah. Lalu aku akan bercerita tentang kesempatanku cemberut saat harus mencuci ulang jemuran, karena hujan yang turun saat aku sedang terlelap tidur siang bersama anak kita. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku adalah ibu rumah tangga yang berbahagia dengan pilihan hidupnya.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa terkadang mengecewakan adalah bagian dari upaya kita bertahan hidup. Bahwa kamu punya aku yang akan tetap mencintaimu walau dalam kemarahanku yang paling pekat. Bahwa kita akan punya waktu untuk saling mengatakan hal buruk yang semestinya diungkapkan. Bahwa kita akan saling belajar memahami, bahwa ada kejujuran yang pahit saat ditelan—namun kita akan menelannya selayaknya obat. Saat kamu pulang kerja terlalu larut dan aku terlalu lelah untuk memakluminya. Dan saat kita berbohong untuk sesuatu yang tidak semestinya dilakukan. Hari di mana kita mengingat bahwa manusia, pada akhirnya hanyalah manusia.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik. Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa memaafkan adalah sebenarnya cinta yang bisa kita bagi. Hinga akhir.


fa.

Sunday, February 22, 2015

things will get better


Hidupmu terlalu baik. Jika denganku banyak luka yang harus kamu tutupi. Dan aku tidak mau memberimu cinta yang merepotkan. - falafu
Saya tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan seseorang yang padanya bisa saya ceritakan segala hal yang paling buruk yang ada di dalam hidup saya ini. Saya selalu berpikir, dia bisa mencintai saya—tapi mungkin tidak setelah mengenal saya seutuhnya.
Sampai detik ini, belum ada pria yang bisa membuat saya tidak takut terlihat sebagai saya yang sedang menulis tulisan ini. Bukan berarti selama ini saya jadi seseorang yang Palsu. Tidak demikian. Saya hanya tidak menceritakan padanya tentang diri saya yang seutuhnya. Dia hanya saya biarkan mengenal saya sebatas kulitnya saja, tidak pernah saya biarkan masuk terlalu jauh. Ke bagian yang paling pekat.
Itu kenapa, saya masih selalu merasa, saya belum bertemu dengan cinta itu. Ketika saya menemukan yang baik yang ingin melengkapi saya, tidak jarang saya mendorongnya menjauh. Hanya karena saya ingin dia bertemu dengan perempuan yang punya cerita hidup yang lebih baik dari yang saya miliki. 
Stupid me. Yes. 
Karena saya merasa, tidak semua orang pernah punya kisah yang rumit dalam kehidupannya. Tidak semua orang bisa melihat sisi terbaik dari setiap keburukan yang terjadi dalam hidup seseoang. Seandainya pun mereka mampu, belum tentu mereka mau repot-repot melakukannya. Karena itu pasti melelahkan. 

Dan saya tidak ingin membuat pria baik itu lelah menghadapi saya. 

Saya tahu, setiap kali saya memutuskan untuk tidak lagi mencintai seseorang yang sebenarnya saya ingin cintai—saya sedang menusukkan jarum ke dalam hati saya sendiri. Tapi selama ini, luka besar yang sudah saya punya di dalamnya, membuat segala sakit itu tidak lagi cukup menyakiti saya. I'm used to hurt. And I’m okay. And that’s stupid.
I’m sorry Fa, I hurt you a lot.
***
Mungkin ada yang pernah merasakan hal yang sama. Tidak apa. Tidak perlu merasa sendirian. Saya pun pernah mengalaminya, kita selalu bisa menyembuhkan diri kita. Tapi sebelumnya, kita harus menemukan di mana letak luka itu dulu. Ayo temukan luka yang kamu sembunyikan. Lalu terima mereka menjadi bagian dari dirimu, and things will get better.