Monday, August 25, 2014

Amour


"Things will go on, and then one day it will all be over." - Amour

Baru kali ini saya menonton film yang punya cerita tentang penderita stroke, tapi bisa sangat mirip dengan apa yang terjadi dengan mama saya dulu. Bukan tentang keseluruhan ceritanya memang, karena Amour punya ending kisah yang begitu memilukan, yang bahkan membuat saya masih galau sampai di detik ini.

Amour ini tipikal film yang saya suka, sederhana, dan punya tokoh yang sangat sedikit. Tidak lebih dari kesepuluh jarimu bila dihitung. Bahkan, tokoh sentralnya hanyalah 2 orang pemera utama. 

Amour bercerita tentang Georges dan Anne, pasangan suami istri yang sudah menginjak usia 80 tahunan. Tinggal berdua di sebuah apartemen bagus, dan mereka berdua adalah pensiunan guru musik. Dua orang berpendidikan yang saling mencintai dengan sangat santun. Tidak sungkan berkata terima kasih dan maaf. Bahkan di sepanjang film ini, saya selalu takjub dengan cara mereka berbicara satu sama lain. 

Anne adalah pencitraan perempuan modern yang mencintai dengan penuh kemandirian. Agak keras kepala dan agak sulit mengalah. Sedang Georges adalah tipikal suami yang sangat menghargai istrinya. Bukan berarti Georges tunduk dengan sang istri, tapi ia selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai kepala keluarga yang rendah hati dan bijaksana. 

Anne dan Georges hidup sangat mapan, bahagia dan saling mencintai. Hingga pada suatu pagi, ketika mereka sedang menyantap sarapan, Anne terkena serangan stroke ringan. Singkat cerita, kehidupan mereka berubah 180 derajat. Anne yang mandiri sangat tertekan dengan penyakit yang membuatnya sulit untuk melakukan apa pun. Dan yang begitu hebat dari film ini, adalah bagaimana mereka menggambarkan penurunan kondisi kesehatan Anne, benar-benar begitu mirip dengan kehidupan nyata. Saya punya ibu yang menderita stroke selama 8 tahun. Dan melihat cerita Anne, membuat saya seperti menonton kembali kondisi ibu saya. 

Mulai dari Anne yang masih bisa berjalan sedikit, lalu saat Anne mulai tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berbering. Saat Anne untuk pertamakalinya mengompol tanpa dia sadari, lalu itu membuatnya harus mengenakan pempers. Atau Anne yang terus meracau saat malam datang, dan saat George bertanya pada Anne;

Sakit kah? Di sebelah mana yang sakit? Tapi Anne tak pernah mampu memberinya jawaban. 

Saya dan ayah saya sering menanyakan hal yang sama pada mama saya. Itu adalah salah satu bagian paling menyedihkan, ketika kamu tahu orang yang kamu sayangi kesakitan, tapi kamu tidak tahu di mana letak penyakitnya itu, karena memang orang yang kamu sayangi tersebut sudah tidak lagi bisa mengatakan apa-apa. Hanya bisa menatap ke langit-langit dan mengerang kesakitan. 

Wajah Anne pun mirip sekali dengan wajah mama saya, bahkan saat dia marah. Dan melihat George, membuat saya teringat cinta yang ayah saya miliki untuk mama saya. Walau berat, ayah saya tidak pernah meninggalkan mama saya saat beliau sakit. Ayah saya memandikan, menceboki, menyuapi, menemaninya tidur, melakukan apa pun untuk mama saya. Sampai akhir hayatnya.

Saya bersumpah, hari-hari itu sangatlah tidak sederhana. Dan akan terus membekas di dalam diri saya, hingga akhir. 

Ayah saya, bukanlah orang tua dan suami yang sempurna, kami melewati banyak kesalahan dan buruknya hidup bersama, tapi saya tidak pernah ingin menukarnya dengan ayah milik siapa pun. 

Happy birthday Pak. I love you, and please stay with me as long as possible. 
And I love you Ma, I am sorry that I ever be so rude when i took care of you. 


Friday, August 01, 2014

Friday with Fa

Waktu nulis posting ini, saya lagi kangen nonton Ruby Sparks 


"Banyak benda-benda yang dihargai begitu tinggi, tapi nyatanya tak mampu menggenggam tangan kita, ketika langkah kita mulai keliru."
[falafu]

Saya tidak tahu seberapa batasan ‘keberuntungan’ yang ada di kepalamu. Tapi dari hidup yang sudah saya lalui hingga saat ini, bisa duduk berdua dengan orang yang saya sayangi, dengan jarak yang tidak jauh hingga mata kami bisa saling menatap saat kami berbincang, lalu bersedia dengan senang hati menertawakan ‘ketidak-beruntungan’ kami; adalah sebuah keburuntungan.

Beri saya kesempatan mengutip buku yang sedang saya baca;

Kemana pun aku pergi, ada saja orang yang dengan bernafsu ingin memiliki apa pun yang baru. Sebuah mobil baru, sebidang tanah baru. Mainan terbaru. Dan kemudian mereka juga bernafsu menceritakannya pada kita; Coba lihat apa yang baru aku beli? Kau tahu bagaimana aku menafsirkan semua itu? Yang sangat didambakan oleh orang-orang ini pada dasarnya adalah kasih sayang namun karena tidak mendapatkannya, mereka mencari ganti dalam bentuk-bentuk yang lain. mereka mengikatkan diri pada harta benda dan mengharapkan semacam kepuasan dari situ. Akan tetapi usaha mereka tidak pernah berhasil. Kita tidak dapat menukar cinta, kelembutan, keramahan, atau rasa persahabatan dengan harta benda. 
[Tuesday With Morrie by Mitch Albom]
***
Ada kalanya saya berpikir, apakah mungkin pikiran bahwa ‘uang tidaklah sepenting itu untuk dicintai’ dalam diri saya muncul, karena saya tidak lah sekaya mereka yang punya uang melebihi apa yang mereka perlukan. Apakah mungkin pikiran bahwa ‘harta tidaklah sepenting itu untuk dicari’ dalam diri saya muncul, karena saya tidaklah ‘seberuntung’ mereka yang punya segalanya. Atau apakah ini mungkin hanya penyangkalan saya semata? Bahwa saya memang tidak sehebat itu untuk mampu membeli segala yang saya butuhkan; apalagi segala yang saya inginkan.

Well, saya memang tidak miskin. Tapi saya tidak lagi memiliki wajah untuk meminta uang kepada orang tua saya; bila itu hanya untuk keinginan saya memiliki ponsel terbaru, atau baju baru karena baju yang saya pakai ya cuma itu-itu saja, atau sepatu baru—karena saya tidak punya sepasang sepatu yang cukup untuk saya pakai 7 kali bergantian dalam satu minggu.

Ada sebuah Indian Proverb yang berbunyi; I had no shoes and complained, until I met a man who had no feet. Anggap lah apa yang sudah saya lalui dalam hidup saya, mampu membuat saya mengamini kalimat barusan. Seperti juga kalimat Morrie yang berbunyi; manusia butuh makan, tapi siapa yang bilang kalau manusia butuh makan makanan yang luar biasa enak?

Sesungguhnya saya kerap kali memikirkan hal di atas tadi, apakah keyakinan saya bahwa uang tidaklah sepenting itu untuk dicintai hanyalah datang dari penyangkalan saya akan hidup saya sendiri yang tidak ‘wah’ dan biasa-biasa saja. 

Hingga pada akhirnya saya berhenti memikirkannya, setelah saya melihat ibu saya meninggal dan menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata saya sendiri. Tubuhnya begitu kurus karena melawan penyakit yang 8 tahun memeluknya erat-erat. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana rahangnya mengencang saat ia harus menarik nafasnya yang terakhir. Hati saya bilang; hey Fa, hidup tidaklah sepanjang itu untuk dilalui; tapi mereka juga tidaklah sependek itu untuk tidak kamu lewati dengan sebaik-baiknya. 

Banyak hal yang setengah mati kita kejar dan kita inginkan, walau pun sebenarnya tidaklah selayak itu untuk diperjuangkan. Banyak hal-hal semu yang kita tangisi, padahal kenyataannya tidaklah benar-benar bisa membuat kita menjadi utuh. Begitu banyak cinta dan perhatian yang jatuh pada mereka yang bahkan tidak bersedia memberi kita pelukan atau sandaran saat kita memerlukannya. Benda-benda yang dihargai begitu tinggi, tapi tak mampu menggenggam tangan kita, ketika langkah kita mulai keliru. Bahkan, banyak sekali perihal yang membuat kita mampu merasa lebih besar dari Tuhan kita sendiri. 

Sayang, tidak semua arah yang keliru dalam hidup ini, bisa kita temukan jalan keluarnya di perangkat GPS. 

Tapi satu hal yang pasti; ketika kamu meninggal orang tidak akan pernah mengingat sebanyak apa harta yang berhasil kamu kumpulkan, tapi seberapa banyak waktu juga kasih sayang yang sudah bersedia kamu bagi sepanjang hidupmu—untuk mereka yang berada di sekelilingmu. Ini mungkin terbaca klise sekali, tapi saya bukanlah sedang bicara soal hidup miskin jauh lebih baik dari hidup berkecukupan. Saya sedang mencoba mengatakan bahwa hidup berkecukupan, bukanlah hidup yang harus diisi dengan limpahan barang yang sebenarnya tidak begitu berguna untuk mengisi kebahagiaan kita. 

***
Menurutmu, apa pentingnya bagiku mendengarkan masalah-masalah orang lain? Belum cukupkah sakit dan penderitaan yang harus kujalani sendiri? Perbuatan memberilah yang membuatku merasa hidup. Bukan mobil atau rumahku. Bukan pula apa yang kulihat melalui cermin. Ketika aku memberikan waktuku. Ketika aku dapat membuat seseorang tersenyum setelah sebelumnya merasa sedih, aku merasa sesehat yang pernah kurasakan. 

[Tuesday With Morrie]
Ketika saya membaca paragraph di atas, saya seperti ingin menepuk pundak Morrie dan bilang; that’s what I felt this damn whole time! Ketika orang-orang berkata pada saya; fa masalahmu tuh udah banyak, ngga perlulah dengerin masalah orang lain dan bikin hidupmu makin ribet sendiri. Maybe you don’t get it, tapi inilah salah satu cara saya untuk bertahan hidup hingga saat ini. Saya selalu merasa, setiap kali saya selesai menjawab dan mendengarkan curhatan seseorang (yang bahkan tidak saya kenal), hidup saya berjalan lebih mudah dan sederhana.

Banyak dari pesan-pesan itu yang diawali kalimat; Fa, aku cuma cerita ini ke kamu. Fa, cerita ini hanyalah kamu dan Tuhan yang tahu. Fa, aku ngga tau kenapa aku cerita ini ke kamu, tapi aku percaya kamu bisa menyimpannya baik-baik.

Bagi saya, tidak semua orang seberuntung itu bisa diberi kepercayaan untuk mendengarkan.

Kembali lagi ke awal tulisan ini, saya tidak tahu seberapa batasan ‘keberuntungan’ yang ada di kepalamu. Tapi dari hidup yang sudah saya lalui hingga saat ini, bisa duduk berdua dengan orang yang saya sayangi, dengan jarak yang tidak jauh hingga mata kami bisa saling menatap saat kami berbincang, lalu bersedia dengan senang hati menertawakan ‘ketidak-beruntungan’ kami; adalah sebuah keburuntungan.

Waktu dan juga perhatian yang bersedia dia beri pada saya; adalah harta yang tidak terkira.

Itulah yang coba saya beri kepada orang lain yang saya kenal atau tidak saya kenal. Saya mungkin tidaklah punya uang banyak, tapi saya punya kesediaan untuk mendengarkan, saya punya waktu yang bersedia saya bagi, dan saya masih punya rasa syukur di dalam hati saya atas segala yang saya miliki. Kurang dan lebihnya.
Inilah hidup yang saya pilih untuk saya yakini. Dan saya merasa kaya di dalamnya.

Tentu saja saya kerap merasa kesepian dan terluka sendirian, karena walau pun terlihat seperti pribadi yang sangat terbuka, saya bukanlah manusia yang pandai menyampaikan kesedihan saya pada oranglain. Tapi saat saya merasakannya, saya hanya perlu menerima kesedihan itu. Saya akan menangis, tapi itu tidak akan membuat saya berhenti tersenyum setelah berhasil melewatinya. Tidak ada yang mengatakan bahwa manusia tidak boleh merasa sedih dan kesepian, yang tidak boleh dilakukan adalah membiarkan mereka bertahan terlalu lama dalam hatimu. Kamu hanya perlu memberi mereka jalan untuk melewati hidupmu, dan berhenti keras kepala dengan menahannya. Maka mereka pun akan terlewati,

Semoga, kamu pun tengah bahagia dengan hidup yang kamu jalani :)


Saturday, July 26, 2014

Kosong


Love runs deep
deeper than the darkest see
so drop your guard
why do you have to be so hard
[Jasmine Thompson]


Setiap kali lebaran sudah nyaris sampai, hati saya pun seluruhnya nyaris kosong. Saya banyak sekali mengingat hal-hal yang sudah lewat. Mungkin ini karena mama saya meninggal satu minggu sebelum bulan puasa datang 2 tahun yang lalu. Dan saya harus melewati ramadhan tanpanya, dan mengahadapi seluruh dari sisa idul fitri yang saya miliki; tanpanya.

Ada kesedihan yang tidak bisa saya jelaskan seperti apa rasanya. Saya sebenarnya bukan tipikal manusia yang suka memikirkan hal-hal pilu yang terjadi dalam hidup saya. Tapi kehilangan ibu itu melebihi pilu. Dan saya pun sebenarnya enggan mendramatisir kehilangan saya yang satu ini, karena ada begitu banyak anak lain yang bahkan sudah yatim piatu. Dan mereka baik-baik saja. Atau mungkin sebenarnya mereka tidak lah sedang baik-baik saja. Mereka masih berusaha menjadi baik-baik saja tanpa orangtua mereka. Usaha yang mereka pun tak tahu hingga kapan bisa diakhiri. Seperti saya di detik ini.

Kalau saya bisa berdoa untuk kamu, saya harap kamu tidak perlu pernah mengalaminya
Kalau saja saya diberi satu permohonan, saya ingin ibu di seluruh dunia bisa hidup selamanya untuk anak-anak mereka

Ah ma, mungkin saya hanya sedang kangen 
Anakmu yang cengeng ini masih saja keras kepala untuk mengingat segalanya

Atau mungkin ini karena begitu banyak saya melihat orang-orang yang mempersulit hidup mereka hanya karena apa yang mereka yakini benar. Lalu mengesampingkan perasaan begitu banyak manusia lain yang sedang memeluk kehilangan mereka. Merasa bahwa apa yang sedang mereka perdebatkan saat ini, jauh lebih penting dari berbagi pelukan. Dan bahwa kebencian yang sedang mereka saling tebar, membuat anakmu ini merasa begitu kecil. Membuat anakmu ini merindukan pelukanmu yang tak sekali pun perlu syarat dan pamrih.

Ah ma, ada begitu banyak cinta dan penerimaan yang saat ini ditempeli harga juga perjanjian
Dan mereka membuat anakmu merasa semesta ini begitu kosong

Tapi Ma, bukankah tanpa kekosongan, manusia tidak akan pernah mengerti baiknya saling mengisi?
Kenapa begitu banyak yang memaksakan diri mereka untuk jadi yang paling kuat di antara yang lain
Bukankah tanpa kelemahan yang mereka punya, maka tak ada ruang bagi cinta untuk mengisinya?
Bukankah selama ini semesta mampu bertahan, karena makhluk yang mendiaminya saling berani mengesampingkan ingin juga emosi mereka sendiri?

Bahwa mereka begitu memahami, tak ada yang benar-benar 'benar' selain pencipta-Nya
Dan bahawa mereka begitu percaya, tak ada yang benar-baner 'kuat' selain keberanian untuk saling menerima kelemahan

Ah ma, mungkin saya hanya sedang kangen kamu.


Biar Tuhan jaga kamu baik-baik. 
Sebaik lengan ibu yang melingkari tubuh ini, saat kecil.
[falafu]