Friday, May 22, 2015

It's Not That Bad


When I lost my mom, I thougt I would lose my life. But, well, I don’tI am still here, willing to live my life and thank you, me. - Fa

Kamu tahu, ada begitu banyak hal buruk yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seburuk itu. Dan ada juga begitu banyak hal indah yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seindah itu.

Manusia kebayakan hidup dalam angan-angannya—tidak terkecuali saya. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri. Dan itu semua bermula dari angan-angan saya tentang hari esok. 

Bagaimana nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain sebagainya.

Sebutlah saja, mungkin titik terendah dalam hidup saya datang saat ibu saya meninggal. Saat itu saya tahu beliau sakit parah, saya tahu waktunya tidak akan lama lagi, saya bahkan sempat mengatakan padanya sambil berbisik; 'Tak apa Ma, Farah akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Suatu hari nanti, aku akan bertemu pria yang menyayangiku dengan baik—walau pasti tidak sebaik sayangmu selama ini.'

Karena apalagi yang mampu seorang ibu khawatirkan dari anak perempuan satu-satunya ini, kalau bukan soal pasangan hidup? Saya tahu, dia pasti begitu sedih, karena bahkan dia tidak berkesempatan untuk melihat seperti apa rupa pasangan saya nanti. Karena saya adalah anak terakhirnya yang belum berkeluarga. 

Namun tetap saja, saat hari itu benar-benar datang. Saat saya akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada lagi beliau selama-lamanya, saya hancur berkeping-keping. Satu tahun saya bahkan tidak ingin melakukan apa-apa. Saya kehilangan rasa ingin tahu akan hari esok. What about tomorrow? Saya tidak peduli. Walau pun setengah mati saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap malam, saya begitu takut memejamkan mata, karena saya begitu takut akan kematian. Karena akhirnya saya tahu, bahwa kematian adalah tempat yang begitu sepi dan sendirian, Dan Ibu saya berada di sana. 

Tapi hari-hari itu sudah berada di belakang saya. Saya yang sekarang, sudah bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan’. Bahkan sudah lebih dari 2 tahun saya bekerja lagi dan mencoba menikmati rejeki yang menjadi bagian saya. 

Siapa pun, pasti punya waktunya untuk meninggalkanmu. Hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini.

Kesedihan dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal kamu tetap bertahan menjalani hidupmu dan mensyukuri apa yang masih tertinggal di dalamnya.

Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga berhasil kamu wujudkan. Well, I have been there so many times.

Membayangkan hal-hal indah—yang mungkin bila saja bisa benar terjadi, hidup saya akan jauh lebih baik. Padahal ya belum tentu. Siapa yang bisa menjamin memang?


Tuhan Maha Bijaksana. Memberi segala yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Mengantar dan mengambil segala, tepat pada waktunya. - Fa

Saat itulah, saya mencoba memahami makan ‘ikhlas’, menerima bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya adalah bagian terbaik  yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan. Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana—Tuhan tidak akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin yang tidak mampu terucap sekali pun--karena terlalu besarnya harapan itu. 

Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.

Percayalah, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Dia mengetahui hal-hal yang masih jadi rahasia. Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.

Listening to OneRepublic - I Lived







Monday, April 27, 2015

Ketika Berbicara Soal Pasangan

Banyak orang yang kalau ditanya ingin pasangan seperti apa, maka jawabannya bisa tidak cukup di lembar pertama yang diberikan. Kalau saya ditanya pertanyaan yang sama, jawaban saya cukup 2 kata; setia dan taqwa.

Nggak pengen punya cowok kaya Fa? 


Ya mau, tapi saya udah pernah ngerasain hidup banyak uang tapi nggak bahagia. Rejeki yang cukup saja, cukup buat liburan dan buat sekolahin anak, tapi kalau dikasih yang lebih ya Alhamdulillah.

Ngga pengen punya cowok ganteng Fa? 

Ya mau, tapi nggak perlu seganteng Arifin Putra juga. Yang cukup buat saya tatap setiap saya bangun tidur aja. Lagi juga jaman sekarang, kebanyakan yang ganteng sukanya juga sama yang ganteng :|

Ngga pengen punya cowok pinter Fa? 



Kalau dia taqwa, dia pasti pandai. Karena dia tahu, salah satu amalan yang tidak akan terputus walau seseorang sudah meninggal adalah ‘ilmu yang bermanfaat’.

Tapi kebanyakan cowok taqwa kan nggak cool Fa! 

Pikiran macem begini yang bikin banyak orang nggak mau lagi jadi taqwa. Karena bahkan sesama muslim di sekitarnya, menganggap yang taqwa itu ya 'kolot dan aneh'.

Saya ingat salah satu alasan Sacha Stevenson (youtub-er bule yang sekarang jadi entertain di Indonesia) buka jilbabnya. Dulu waktu dia masih di Canada, orang di sekitarnya selalu mandang dia teroris dan aneh karena dia memakai jilbab. Sampai akhirnya dia pindah ke Indonesia, ke negara yang mayoritas muslim, tapi ternyata dia masih selalu mendapat perlakuan diskriminasi. Sacha susah dapet pekerjaan di Indonesia, susah diterima di lingkungan barunya, dan banyak mendapatkan kesulitan lain. Padahal, dia sedang tinggal di negara yang mayoritas muslim. Sedih nggak sih?

Mungkin itu kenapa di kepala anak jaman sekarang; anak muda yang taqwa itu kampungan dan nggak cool. Taqwa itu seharusnya ya pandai mengikuti perkembangan jaman. Karena pengetahuannya luas, karena hatinya luas, karena pikirannya nggak sempit. Gitu kak.

Ya kalau yang memandang begitu anak SMP / SMA / Awal kuliah saya masih bisa paham sih. Soalnya ya masih ‘cetek’ hidupnya. Masih berperinsip, muda itu waktunya jadi bandel dan nakal. Muda itu waktunya bikin salah sebanyak-banyaknya. Sampai lupa, kalau nggak ada yang pernah ngasih jaminan, kalau semua orang bisa selamat melewati masa nakalnya.

Let me tell you, saya punya kakak yang dulu pernah nyobain segala mancam salah, pernah nyobain segala macam bentuk kenakalan, sampai dia nyaris kehilangan nyawanya sendiri. Dan apa yang dia dapet? Nggak ada. Dan apa yang hilang dari hidupnya? BANYAK. Dan waktu, nggak akan pernah bisa kembali. Mau beli di mana pun, juga nggak ada yang jual.

REALLY?
Muda, adalah waktunya manusia tumbuh. Melihat banyak kesalahan di sekitarnya, dan tidak membuat kesalahan yang sama. Muda, adalah waktunya manusia berpikir. Melihat banyak kenakalan di sekitarnya, dan berupaya agar tidak perlu mengalaminya untuk bisa menjadi ‘berpengalaman’. Belajarlah dari pengalaman, nggak selalu harus diri sendiri yang mengalami kebodohan yang sama kan?

Dear, untuk bisa mendapatkan banyak pengalaman, kamu ngga perlu kehilangan banyak hal baik yang ada di dalam dirimu. Siapa yang mengharuskan hal seperti itu? Siapa yang bikin hukumnya? Nggak ada.

Anggap lah saya cupu atau cemen. Di usia segini saya cuma pernah sekali mencoba merokok, ngga pernah sama sekali minum minuman beralkohol, nggak pernah pacaran yang aneh-aneh. Dan memang nggak pernah sama sekali merasa hal-hal macam itu keren di mata saya. Tapi bukan berarti saya nggak berpengalaman.

Sejak saya umur 6 tahun, saya sudah melihat putau dan shabu-shabu. Saat SD saya sering melihat keluarga saya minum minuman berakohol. Saya bahkan pernah melihat kakak saya saling tonjok cuma karena mereka lagi mabok. Melihat orang yang gila karena kecanduan narkoba, yang tanpa sadar menyayat-nyayat tubuhnya sendiri, lalu diisap darahnya karena memang darahnya sudah mengandung narkoba. Saya bahkan pernah melihat kakak saya sendiri mencobab bunuh diri. Berapa banyak orang yang pernah menangis pada saya karena hamil di luar nikah? Berapa banyak perempuan yang akhirnya jadi ‘murah’ karena sudah pernah having sex dengan pasangannya—yang ternyata berengsek? Tidak terhitung. Saya pernah dihadapkan pada kehidupan buruk—yang tidak ingin pernah saya ulangi kembali. Saya tidak memiliki orangtua yang sempurna, and I’m deal with it. Because nobody’s perfect. Siapa pun bisa mengecewakanmu. Tidak terkecuali orang yang melahirkanmu ke dunia. Dan itu bukan salahmu. Tidak perlu lantas merasa tidak berharga, karena seseorang menganggapmu tidak seberapa berharga. Kalau masih takut mati, maka hiduplah baik-baik.  

Banyak sekali hal buruk yang memberi keburukan dalam hidup saya. Padahal saya, tidak melakukan apa pun yang buruk pada hidup saya sendiri. Kamu tahu, itulah jahatnya hal-hal buruk. Tanpa kamu sadari, hal-hal buruk tersebut ikut melukai banyak orang tidak bersalah yang ada di sekitarmu. Tidak lagi hanya berhubungan dengan hidupmu sendiri. Banyak keputusanmu yang salah, pada akhirnya menghancurkan banyak hati—selain hatimu sendiri.

Dan kenapa saya ingin memiliki pasangan yang setia?
I HOPE SO..

Karena pada akhirnya, kamu perlu hidup bersama dia yang akan rela mencebokimu saat kamu sakit. Menuntunmu saat kamu tidak bisa berjalan. Mendoakanmu saat hidupmu tengah sempit. Dan tetap mencintaimu setelah banyak kekecewaan yang terjadi dalam kehidupan kalian.

Ibu saya sakit 8 tahun lamanya. Saya beri tahu, bertahun-tahun menjaga dan merawat orang yang sakit bahkan walau itu ibumu sendiri, bukanlah perkara yang sederhana. Saya, bahkan tidak bisa sempurna menjaganya, saya pernah marah dan kesal saat menyuapinya, atau saat harus membuang kotorannya. (well, ini adalah salah satu pengalaman hidup yang kalau kamu nggak rasain sendiri, kamu nggak akan tahu gimana beratnya. Lucky me pernah dikasih kesempatan sama Tuhan buat merasakannya. Semoga kamu nggak perlu melewatinya  ya. Saya pernah merasa sedih, marah, dan benci saat mengalaminya. Tapi waktu akhirnya membuat saya menyadari bahwa pernah melewatinya adalah waktu yang sangat berharga. Dan berhasil melewatinya adalah sebuah hadiah yang luar biasa.)

Pengalaman itu yang membuat saya tidak lagi menjadi manusia yang sama seperti saya yang sebelumnya. Pengalaman yang akhirnya membuat saya tersadar, bahwa cinta, tidaklah cukup menjadikan seseorang mampu setia. Tapi taqwa mampu melakukannya.

Menikah, bukanlah hanya perkara kamu dan dia. Tapi juga perkara hidup anak-anakmu. Menikahlah dengan dia yang mau sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang semestinya. Dan menjadi pasangan yang setia menggenggammu apa pun yang terjadi.

Siapa pun bisa menjadi pembohong dalam kehidupanmu. Bahkan orang yang paling kamu cintai sekali pun. Saya pernah dibohongi yang begitu besar, kebohongan yang bisa jadi alasan saya untuk merusak diri saya sendiri. Tapi saya tidak perlu melakukan kebohongan yang sama untuk menunjukkan bahwa saya tengah terluka. Saya tidak perlu terjun ke jurang yang sama, hanya untuk menunjukkan bahwa saya juga mampu bertahan dalam kehancuran.

Dewasa adalah saat kamu mampu tetap hidup dengan baik, seperapa pun banyak kotoran yang dilemparkan manusia lain ke wajahmu.

Kedewasaan, bukanlah soal seberapa lama sudah kamu hidup di dunia ini. Kedewasaan terjadi saat kamu tidak merasa lebih dewasa dari orang di sekitarmu. Sehingga kamu mampu melihat lebih banyak, mempelajari lebih banyak, dan menjadi lebih besar tanpa mengecilkan orang lain.

Well, kalau balik lagi ke pasangan. Seberapa pun ganteng, kaya, pinter, tajir pasanganmu. Kalau dia ngga ‘taqwa’—segalanya bisa hilang. SEGALANYA. Bahkan, dia bisa membuatmu kehilangan dirimu sendiri.

Kalau saya sih selalu ingin punya anak yang bisa belajar sholat dan mengaji dari orangtuanya sendiri. Bisa belajar kebijaksanaan dari ayahnya, bisa belajar kasih dan sayang dari ibunya. Dan bisa belajar kejujuran dari kedua orangtuanya. One of my coolest dreams I guess.

Berlaku di agama apa pun sih sepertinya, teman saya yang beragama lain tapi patuh sama Tuhan-Nya juga kece-kece semua kok :)

Allah-nya saya, paling benci sama manusia yang merasa lebih beriman dari manusia lain. Rosul saya Muhammad selalu berpesan, kalau mau hidup tenang, maka urusan dunia lihatnya ke bawah, sedang urusan ibadah lihatnya ke atas.

Kita bisa pergi kemana-mana naik motor bersyukur, oranglain masih banyak yang harus jalan kaki karena ngga punya kendaran. Kita bisa pergi kemana-mana jalan kaki bersyukur, oranglain ada yang lagi sakit dan ngga bisa jalan.

Teman bisa sholat 5 waktu padahal sibuk minta ampun, kita juga harusnya bisa sholat 5 waktu tepat waktu karena punya waktu lebih untuk melakukannya. Teman bisa puasa senin kamis padahal pekerjaannya melelahkan, berarti kita juga pasti bisa melakukannya, karena kita kerja di ruangan ber-AC.

Yuk, sama-sama belajar hidup yang tenang Kak. Semoga one day, kita pun dipertemukan dengan pasangan yang selalu mampu ‘menenangkan’ kita :)

Kamu boleh sependapat atau tidak sependapat dengan saya. Karena kita punya hidup kita masing-masing.

Peace out!

Fa.




Tuesday, April 14, 2015

Waktu


Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.

Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  

Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 

Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 

Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.