Wednesday, January 14, 2015

Menyembuhkan diri, menatap langit

Seberapa pun cerahnya harimu berjalan, kamu harus tetap selalu menyimpan payungmu baik-baik. Tak ada yang tahu kapan pastinya hujan turun.

Jadi, hari Jumat minggu lalu saya sempet ngga enak badan, mungkin karena kurang istirahat dan emang cuacanya juga yang lagi ngga bagus badan saya drop. Jumat malam saya sampai ngga siaran dan Sabtu saya tepar di kosan. Saya akuin saya memang termasuk orang yang jarang sakit, jadi sakit sedikit aja saya rasanya selalu pengen cepet-cepet sembuh. Itu kenapa di hari Minggu sore saya mengajak teman kantor saya Masta buat nemenin saya jalan-jalan sore. Kebetulan ada taman bermain di Jogja yang belum lama buka, dan punya bianglala cukup besar, fyi, saya suka banget sama bianglala. Bahkan cuma bianglala di pasar sekaten aja (pasar malam) saya udah seneng banget liatnya. Anak kecil di dalam diri saya langsung lompat-lompat. Walau pun waktu sampai di sana saya lebih banyak duduk, karena baru bediri sebentar aja langsung lemes lagi hahaha. Tapi itu adalah sore yang menyenangkan, yang bikin saya bisa menghadapi hari Senin dengan semangat lagi.

Eniwei saya juga lagi suka banget sama langit Jogja akhir-akhir ini. Bikin saya kangen sama diri saya yang dulu, yang sangat suka berlama-lama memandangi langit, sambil mikirin banyak hal yang lagi memberatkan hidup saya. Dan seperti magic, langit selalu mampu membuat saya merasa lega dan lapang. Selalu berhasil menyembuhkan saya. 

Told you, sunset-nya Jogja lagi super-kece-banget


BIANGLALAAAAAAAAAAAAAAAAA

Itu si Masta, pas dia saya foto, pas ada pesawat lewat :3

Ps: Nama taman bermainnya Sindu Kusuma Edu Park, letaknya di daerah Sleman 

Sunday, December 28, 2014

Mengerti Aku

favim.com

Kau tidak benar-benar mengerti aku, bila kau belum pernah membenciku--lalu tetap mencintaiku lagi setelahnya. - falafu


Kau begitu membuatku benci bila sedang marah, walau tidak sedang marah padaku. Kataku; Marah adalah hal yang melelahkan, satu tingkat lebih melelahkan dari diam. Tapi aku tetap mencitaimu setelahnya. Karena aku mau mencoba mengerti, karena aku memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan keadaan. Begitulah cinta bekerja. 

Aku begitu membuatmu benci bila sedang berpura-pura baik-baik saja, walau tidak sedang berpura-pura padamu. Katamu; Berpura adalah hal yang melelahkan, satu tingkat lebih melelahkan dari menangis. Tapi kamu tetap mencintaiku setelahnya. Karena kamu mau mencoba mengerti, karena kamu memberikanku kesempatan untuk menjelaskan keadaan. Begitulah cinta bekerja. 

Kita, tidak pernah membiarkan jari kita saling menunjuk wajah masing-masing dalam pertengkaran. Karena itu adalah hal yang paling menyakitkan. Meninggikan posisi diri dengan menunjuk lebih rendah pada orang di hadapanmu. Orang yang katanya; paling kau mengerti. 

Kita, tidak pernah membiarkan mata kita saling berpaling dari wajah masing-masing dalam pertengkaran. Karena itu adalah hal yang paling menyakitkan. Memalingkan diri dari kenyataan, karena begitu takut menghadapi diri kita yang sebenarnya. Kita yang katanya; akan terus saling mengisi.

Kau yang paling tahu, bahagiaku selalu sederhana. Teruslah ada dan jangan kemana-mana.

"Honey just put your sweet lips on my lips. We could just kiss like real people do." - Hozier




Sunday, November 30, 2014

Teman Baik Ibu

Ibu saya adalah seseorang yang tak pernah bisa lepas dari kopi. Sekarang, saat ia sudah tiada, rasanya saya iri sekali pada bergelas-gelas kehangatan pekat yang selalu lekat di sisinya itu. Karena bisa jadi, kopi jauh lebih setia memandanginya--dibandingkan sepasang mata milik saya ini.

Berpuluh tahun kopi menjadi teman baik ibu menjahit baju pesanan, membuat malam-malam panjangnya jauh lebih terang, mengusir kantuk yang bergelayut manja di pangkal matanya. Saya suka sekali melihat kaki-kaki kecil ibu menggoyang tuas mesin jahit kesayangannya itu, menyambung potongan pola menjadi sesuatu yang bisa membuat manusia lebih beradab; sehelai pakaian. Itu adalah salah satu pemandangan paling indah yang pernah direkam oleh ingatan saya.

Hari ini, saat gerai kopi semakin banyak memeluk sudut-sudut kota dan bahkan jadi tempat manusia hobi meng-eksistensikan diri; menikmati seduhan secangkir kopi panas di teras rumah, sembari memandangi langit selepas hujan dengan ibu menari di dalam kepala, justru masih menjadi favorit saya.

Bu, hari ini saya menuliskan ibu bersama si teman baikmu, kopi. Rindu sekali melihatmu menginjak tuas mesih jahit, dan membuatkan sebuah mukenah sederhana untuk kukenakan saat hari raya lebaran tiba.

Semoga aroma magis kopi, selalu mampu membantuku menyimpanmu di dalam kepala ini, Bu. Sampai selamanya.



Akun Twitter : @falafu

Facebook: www.facebook.com/farahnurulfatimah


Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi #DibalikSecangkirKopi yang diselenggarakan oleh NESCAFE Indonesia