4.10.2014

L(one)ly

Karena ramai tidak selamanya sepi akan luka. – [fa]

Saya selalu memahami kesepian sebagai suatu waktu di mana di detik itu, saya tidak punya satu pun telinga atau pegangan yang bisa saya percaya untuk berbagi kekhawatiran. Tidak peduli, ketika itu saya tengah duduk di tengah-tengah taman bermain bersama segerombolan teman, atau pun di saat saya tengah berada di bawah pesta kembang api perayaan tahun baru. Sepi, senantiasa mampu terjadi.
                  
Untuk orang seperti saya, yang punya banyak sekali hal yang harus saya simpan dalam diam, bahkan sejak saat kecil saya terbiasa melakukannya, terkadang saya menjadi begitu sulit untuk menceritakan perihal luka-luka yang tengah saya rasakan kepada yang selain Tuhan. Saya selalu tahu, bahwa ketika saya sedih, saya hanya perlu waktu untuk membiarkan rasa menyakitkan itu memudar, tapi melewatinya, tak jarang mengharuskan saya untuk bertemu dengan sepi. Walau sekejap, kesepian selalu mampu menelan hati saya bulat-bulat. Dan perasaan itu, terasa begitu tidak baik. Jujur saja, saya tidak pernah menyukainya. Lagi pula, siapa manusia yang bahagia berteman dengan kesepian?

Saya bukan seorang perempuan pemurung, saya selalu memilih terlihat baik-baik saja, itu persoalannya. Kalau kamu juga adalah manusia yang setipe dengan saya, kamu harus ingat satu hal; setelah segala jenis luka dan kesepian yang berhasil dilewati, sesekali mencoba meletakkan tanganmu di genggaman orang lain bukanlah hal yang memalukan. Belajar mempercayakan sesuatu kepada orang lain bukanlah hal yang buruk. Jangan karena hidup kerap menuntutmu untuk selalu lebih kuat dan lebih kuat, maka kamu tidak boleh tampak lemah barang sesekali saja. Tentu saja menjadi lebih kuat dari kebanyakan orang itu baik, tapi beda ceritanya kalau yang terjadi justru sok kuat.

Beberapa orang, mungkin termasuk saya, yang terbiasa menyimpan banyak hal sendirian, kerap membiarkan sepi terlalu lama menetap, yang justru berpotensi membangun dinding-dinding lain di dalam hati. Kalau dinding itu kamu biarkan terus berdiri, lapisannya akan semakin tebal dan bahkan hingga di suatu ketika, sayang macam apa pun yang mencoba masuk, tak mampu lagi menembusnya. Tentu saja itu bukanlah hal bijaksana untuk diteruskan.

Temukanlah dia yang mampu membuatmu semakin menyayangi dirimu sendiri, dan paham bahwa; memiliki kelemahan itu bukanlah dosa. [fa]

Saya pernah dikecewakan, dibohongi, diharuskan menyimpan sesuatu yang menyakitkan seorang diri, karena apabila saya bicara, hal itu akan membuat kesedihan bebas merentangkan sayapnya ke hati-hati lain yang saya sayangi. Melukai lebih banyak hati, saya tak ingin melakukannya. Dan itu semua membuat saya harus selalu berusaha sekuat tenaga mengingatkan diri sendiri, bahwa saya tidak boleh jadi seseorang yang terlalu takut untuk berjalan bersama genggaman seseorang lain. Tidak semua genggaman akan menuntun saya ke arah yang akan membuat saya tersesat. Tuhan selalu menyediakan mereka yang bersedia menuntun saya ke rumah yang lebih baik.

Jujur saja, sejak saya kecil, saya punya banyak sekali alasan untuk menjadi anak yang nakal, atau seseorang yang membenci Tuhan saya sendiri. Tapi saya tidak pernah membiarkan hal seperti itu terjadi. Tidak akan pernah. Saya sudah melihat kenakalan anak muda macam apa pun yang kamu bisa lihat di berita-berita di televisi. Minum? Narkoba? Overdosis? Percobaan bunuh diri? Well, yang seperti itu pernah terjadi di hadapan mata saya sendiri. Dan isinya hanya kekosongan. Saya tidak pernah menganggap ini semua sebagai kemalangan, Tuhan begitu baik pada saya. Dia menunjukkan dengan jelas mana yang salah dan yang benar, walau melewatinya tidak mudah, setidaknya saya tidak perlu melakukan hal bodoh macam itu. Dikecewakan dan tidak menerima penjelasan? Saya juga sudah kenyang. Jadi kalau ada pria yang pernah berpikir, berhasil membuat saya patah hati. Percayalah, rasa sakit patah hati tidak ada apa-apanya dibanding patah hidup. Tapi betapa pun hal itu pernah mengganggu saya, membuat saya depresi dan jadi anak kecil yang aneh sewaktu saya kecil. Saya tidak pernah mau membiarkan diri saya, menjadi seseorang yang tumbuh tanpa mampu percaya pada siapa pun.

Saya selalu ingat, saat saya kecil mungkin sekitar usia 6 tahun, kakak saya pernah terkena usus buntu. Perutnya sakit bukan main, dan dia bahkan sampai menangis. Kakak saya itu anak yang nakal, saya bahkan belum pernah melihatnya menangis sebelumnya, tanpa perlu dijelaskan oleh siapa pun, saya tahu betul dia merasakan sakit yang begitu menyakitkan. Malam itu, karena ayah saya menginap di kantor, akhirnya om saya lah yang mengantarkan kami berangkat ke rumah sakit. Karena hari sudah sangat larut, kakak saya langsung dibawa masuk ke-UGD. Dan beberapa menit setelah saya masuk, ada seorang pasien perempuan yang dibawa masuk dengan terburu-buru, ibunya menangis mengikuti di belakang. Setelahnya, saya melihat suster mencoba membuat susu dengan susu kental manis, tapi luar biasanya, susu itu tidak dibuat di gelas, melainkan di sebuah ember besar. Saya terus mencuri pandang ke arah mereka, susu itu kemudian diminumkan paksa ke si pasien perempuan, sampai-sampai pasien perempuan itu muntah dan bau baygon pun menyebar ke seluruh penjuru UGD. Ya, dia baru saja mencoba bunuh diri dengan meminum baygon. Patah hati katanya. Dia pasti sangat kesepian, sampai jadi sangat bodoh. Kejadian itu, sampai bertahun-tahun setelahnya, masih jelas saya ingat. Entah apa yang ada di pikiran bocah 6 tahun yang mencuri pandang itu. Saya hanya tahu, saya merasa begitu bingung. Di saat kakak saya menahan sakit dan ingin segera diobati, seseorang lain mencoba menyakiti dirinya sendiri. Itu hanyalah salah satu contoh percobaan bunuh diri yang saya tahu, di kehidupan saya setelahnya, saya melihat kesakitan dan kesepian yang lebih banyak. Sinetron adalah hal yang sesungguhnya bisa terjadi di dalam kehidupan nyata. Manusia, sangat mungkin membiarkan hidupnya berjalan seperti kisah di dalam sinetron.

Namun satu yang saya pahami, manusia, tidak dilahirkan untuk berdiri sendiri, walau dia punya sepasang kaki yang membuatnya mampu berjalan. Berjalan sendirian di tengah bumi ini tidak akan pernah memberimu cerita apa-apa. Hidup hanya berjalan untuk berakhir. Itu sangat menyedihkan. Saya tidak ingin mengalami yang demikian. Saya tidak akan pernah membiarkan diri saya memilih hidup seperti itu.

Bersama, bukanlah soal kau tidak bisa berdiri tegak bila mengandalkan kakimu sendiri. Tapi bersama adalah tentang langkahmu yang tak kau biarkan berteman bayangannya saja, dan hanya berjalan tanpa ganggaman siapa pun.

Bukankah akan sangat baik, ketika kamu berjalalan dan menoleh, lalu selalu ada wajah yang setia memberikan senyumnya untukmu? :)

Memiliki kelemahan bukanlah dosa, pernah melewati hal buruk juga bukanlah cela, begitu pun memerlukan seseorang untuk berpegangan, bukanlah hal yang memalukan. Kelak, akan ada seseorang yang mampu membuatmu memahaminya. 

Bahwa segala hal akan baik-baik saja, selama kalian bersama.



3.21.2014

Show Me How


Saya bisa tertawa ketika hati saya bersedih, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk lebih bahagia.

Saya bisa tersenyum ketika hati saya penuh amarah, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk mengalah.

Dan itu tidak mudah. Dan itu tidak pula wajib untuk kamu tiru, percayalah, terkadang itu sangat mengerikan rasanya. 

Beberapa orang yang memaksakan diri untuk memahami saya, banyak yang bertumbangan menghilang. Berpikir kalau saya itu begini dan begitu. Berpikir kalau saya berpikir buruk tentang mereka, menulis hal-hal buruk tentang mereka. Padahal? Ah, salah satu hal yang paling saya benci di dunia ini, adalah membela diri di hadapan orang yang bahkan mampu menilai buruk orang lain tanpa bersedia untuk sekedar bertanya; apakah kita baik-baik saja? 

Ketika mencoba menjadi orang baik saja tidak cukup untuk membahagiakan orang lain, saya tidak lagi mengerti harus bersikap seperti apa. Saya tidak ingin hal-hal yang mengganggu emosi saya, menjadikan saya seseorang yang saya benci sendiri. Banyak orang yang akhirnya menjadi seseorang yang mereka tidak suka, tanpa mereka sadari, dan saya tidak ingin jadi salah satu di antaranya. Di saat saya melangkah pergi dari hidup seseorang, itu hanyalah upaya saya untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Come on, kita harus mengakui, bahwa tidak banyak orang yang peduli pada perasaan orang lain, ketika semua orang berpikir untuk jadi yang paling benar di atas banyak hal-hal yang sebenarnya salah. Dan berusaha untuk tetap berpikiran waras saat di hadapkan dengan hal yang demikian, bukanlah hal yang sederhana.

Segala hal akan tampak salah, di mata seseorang yang terlalu senang berpikiran buruk. 

Saya pernah membaca sebuah surat yang ditulis seorang ibu kepada anak laki-laki kesayangannya, dia menulis:

Temukanlah perempuan yang mampu menertawakan kemalangannya sendiri. Karena kamu tidak perlu perempuan yang bahkan tidak bersedia melihat hal baik di dalam sebuah ‘kemalangan’.

Kamu pun tidak pula diwajibkan untuk meniru ibu tadi. Percayalah, terkadang mencari pasangan yang ingat untuk berbagi saat bahagia saja sulitnya minta ampun.

Dan siang tadi, saya sempat me-reetwet sebuah tweet yang berbunyi;

Too many people are trying to find the right person instead of being the right one. [@ILLUMINATI]
AND THAT’S TRUE 

Setiap orang punya banyak rencana besar untuk menemukan seseorang yang terbaik yang bisa dia mampu dapatkan, mengakhiri hubungan yang ini, dengan aggapan akan bertemu yang lebih baik nanti, berdoa siang dan malam agar Tuhan pertemukan dengan sosok yang mereka pikir adalah yang terbaik.

Tapi berapa orang yang berani untuk berjalan lebih ke depan, meraih tangan seseorang, menggenggamnya, dan berkata;

Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu. Sepanjang hidupku, aku sudah berusaha menjadi yang Tuhan inginkan, untuk pantas menjadi yang paling tepat untuk kamu pilih. Aku yakin, kita bisa melewati segalanya dengan saling memahami dan percaya. Memahami dalam kelemahan, dan percaya pada Tuhan.

Mencoba meyakinkan seseorang bahwa kitalah orang yang tepat yang selama ini dia cari, bukanlah perkara yang sederhana. Jelas melelahkan dan akan terkesan sangat dramatis. Tapi terlalu fokus mencari, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Itu jauh lebih dramatis.

***

Falafu adalah pribadi yang palsu, semua orang boleh bilang demikian. And it doesn’t bother me anyway.
Saya akan terus tersenyum selama Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk hidup. Saya akan selalu mencoba berani mengalah, untuk sesuatu yang hanya berisi sebuah amarah.

Ketika saya sudah sampai di titik di mana saya tidak lagi ingin bicara dengan seseorang, maka dia pasti telah melampaui garis terjauh yang mampu saya berikan, untuk dilukai.

Tapi saya pasti memaafkan siapa pun itu. Ketika bahkan saya tidak menciptakan udara, apa hak saya untuk merasa pantas membenci seseorang selamanya.

Kalau kamu merasa saya tidak cukup mengerti dirimu, maka tunjukkanlah saya caranya. Kita bersama bukan untuk saling menerka dan kemudian terluka. Inilah saya, tidak setiap orang dilahirkan dengan kekuatan untuk selalu mengatakan padamu, apa yang sebenarnya ia rasakan. Itulah saatnya kamu mengatakan apa yang kamu inginkan. Sekarang, semua tergantung seberapa penting kehadiran seseorang itu di dalam hidupmu. 

I can't escape this now. Unless you show me how. [Imagine Dragons]




PS:
Fa selalu menulis tentang dirinya, dirinya begini, begitu, ingin yang seperti ini, ingin diperlakukan begitu. Itulah menakjubkannya menulis. Menulis bisa membuatmu belajar untuk memahami dirimu sendiri. Dan dengan membaca, kamu bisa mencoba memahami seseorang, juga membangun karakter dirimu sendiri. 
Dengan menulis kamu juga bisa menjadi segala yang kamu inginkan, bahkan menjadi yang kamu impikan sekali pun—tanpa hal itu perlu benar terjadi.

3.06.2014

You Filled My Cup

Kau bilang; kau punya segala hak untuk tidak mencintaiku kembali, tapi tidak untuk membuatku berhenti mencintaimu. 
[fa]

Kalau saja kau tahu, bahwa aku tidak pernah mengharapkanmu mampu mengerti aku, terkadang aku hanya perlu kau peluk dalam diam. Diammu bukan berarti kau tak peduli, tapi kau tengah mencoba meredam inginmu sendiri untuk dimengerti, bahwa kau berani memberiku ruang untuk menangis saja, tanpa mendengar kalimat; seharusnya kamu begini. Atau mendengar janji; aku tidak akan kemana-mana. Kau tahu, manusia terkadang bicara tanpa mampu menanggung konsekuensinya, dan aku tidak perlu pria yang demikian untuk ada di sisiku.

Bukan berarti aku tidak pernah berbohong dalam hidupku sendiri. Aku adalah perempuan yang banyak bicara, tapi aku sangat sedikit mengungkapkan siapa diriku yang sebenarnya. Banyak cerita di masa yang lalu, yang membuatku seolah memiliki banyak rahasia dengan diriku sendiri. Kamu tahu kan, saat pertama kali aku mendengarmu bicara padaku, kalau kau menyayangiku, aku hanya bisa diam dan mendiamkanmu dalam sepi yang lama. Bukan berarti aku tidak bahagia detik itu, terkadang kebahagiaan yang teramat dan menyergap hatimu dengan tiba-tiba, membuatmu begitu takut jatuh, seolah kau sedang berdiri di tepian jurang. Kau bisa mundurkan langkahmu, kembali mendiami dunia yang sama, atau kau bisa melompat ke dalamnya, lalu jatuh ke dalam lautan, dan menemukan dirimu sendiri kalau ternyata kau mampu bernapas di dalamnya. Ternyata lautan itu, adalah dunia yang sudah sejak lama menantimu. Cinta adalah sesuatu yang perlu keberanian untuk menerimanya, bukan hanya sesuatu yang perlu keberanian untuk menyatakannya.

Untuk beberapa perempuan, mereka ingin pergi hingga ke ujung dunia. Tapi bagiku, di mana pun aku berada aku bisa melihat bintang-bintang yang sama indah dan aku bisa selalu merasakan angin yang sama sejuk--selama itu aku nikmati bersamamu. Bukan berarti aku tak ingin pergi ke sana dan ke sini. Tapi aku sudah menemukan banyak hal yang membuatku tidak lagi berpikir itu adalah hal yang sangat ingin aku lakukan. Aku lebih ingin memiliki sebuah rumah kecil dengan halaman yang luas, dan membesarkan anakku menjadi seseorang yang tidak takut untuk berdiri di mana pun Tuhan kelak memberinya hidup. Karena dia menerima cukup sayang dari ayah ibunya.

Kau adalah pria yang baik, yang bahkan mampu membuatku berpikir bahwa aku tak cukup special untuk kau banggakan. Di setiap sela jemarimu, saat kau menggenggamku agar tetap ada di tepian yang aman, aku tahu kau selalu mencoba membuatku menjauh dari kekhawatiran. Bahwa ada seseorang yang akan menjadi kedua mata lain di balik pundakku, yang tidak akan membiarkan sesuatu melukaiku dari arah yang tak bisa kujangkau.

Kau tahu aku menyayangimu, sesederhana caramu mencium telapak tangan ibumu setiap kali kalian harus berpisah.

Dan seperti yang kerap kau katakan; kau menyayangiku, sesederhana caraku bertanya; seberapa lebar senyummu hari ini?

Dan di setiap kali aku bilang padamu, bahwa hari ini aku begitu merindukan ibuku. Kau akan mengatakan; bahwa rindu itu berarti berani menunggu hingga suatu hari kalian bisa bertemu kembali.

Dan kau akan marah setiap kali aku memintamu untuk berhenti membuatku menyangimu. Kau bilang; kau punya segala hak untuk tidak mencintaiku kembali, tapi tidak untuk membuatku berhenti mencintaimu. 

Bukankah ini lucu, kalau aku selalu tersenyum di sepanjang aku menulis? :) :*




2.21.2014

Dibutuhkan & Membutuhkan




Mungkin cinta adalah ketika setiap kali kamu mencoba membencinya; kamu justru lebih membenci dirimu sendiri.
(fa)

Saya pernah sangat takut kehilangan seseorang, begitu takut hingga saya mulai kehilangan diri sendiri. Saat itu saya lupa, bahwa seseorang yang pantas saya sayangi, seharusnya adalah dia yang bersedia menjadi orang pertama, yang mampu menjaga saya dari kehilangannya.
Ketika kamu disayanginya, maka kehilangan adalah hal yang senantiasa kamu pikirkan, namun tentu saja itu seharusnya bukan jadi sesuatu yang membuatmu takut menatap hari esok. Karena kamu tahu, bahwa di atas segala kemungkinan yang bisa terjadi, yang mampu membuatmu kehilangannya; dia akan selalu berusaha dua kali lipat lebih besar untuk bisa tetap ada bersamamu.

Hidup itu adalah untaian kekhawatiran, tanpa mereka, bagaimana seseorang mampu bertahan sampai akhir? Ketika kita menyayangi seseorang, tentu saja akan selalu ada kekhawatiran kehilangannya. Kenapa kita takut kehilangannya? Karena kita ingin memiliki masa depan bersamanya mungkin, masih ingin ini dan masih ingin itu.
Seperti pertanyaan yang dilemparkan Sia Furler di akun twitternya beberapa waktu lalu;

What do you do when you no longer need anything?

Hati saya bilang; saya pasti habis—saat saya sudah tidak memerlukan apa-apa dalam hidup ini.
Lalu hati saya kembali bilang; mungkin itulah yang dipikirkan mereka yang memilih bunuh diri, sebelum mereka menembakkan pistol ke kepala mereka.

Lalu saya kembali mengingatkan diri saya sendiri; makanya Fa, jangan ngeluh kalo masih ngerasa apa yang lo dapetin belum cukup. Karena berarti, saat itu Tuhan masih kasih alasan ke kita untuk hidup.

Apa kamu ada yang pernah menonton film Shawshank Redemption, itu salah satu film terbaik sepanjang masa menurut saya. Bercerita tentang kehidupan orang-orang yang harus mendekam dipenjara selama puluhan tahun.

Ada seroang tokoh yang sampai saat ini masih saya ingat, tokoh itu bernama Brooks Hatlen. Seorang kakek tua yang kalau saya tidak salah harus mendekam seumur hidup di penjara, dan akhirnya dilepaskan saat usianya sudah sangat tua. Sehari sebelum pembebasannya, dia bahkan berniat untuk melukai teman sepenjaranya sendiri, agar dia punya alasan untuk tidak keluar dari penjara. Lucu bukan? Ketika mungkin napi yang lain menunggu hari pembebasannya, Brooks justru sangat takut untuk pergi keluar dari tempat yang sudah menyita setengah dari hidupnya.

Apa yang membuatnya takut? Dia takut, karena dia merasa tidak ada seorang pun yang membutuhkan kakek tua sepertinya di dunia luar. Tidak teman, tidak keluarga, tidak juga orang lain. Saat dia keluar dari penjara, Brooks berusaha memulai hidup barunya. Pemerintah memberinya tempat tinggal dan juga pekerjaan di sebuah swalayan. Pekerjaan Brooks adalah memasukkan belanjaan ke kantung belanja. Tapi karena usianya yang renta, bahkan pekerjaan sesederhana itu saja, sangat sulit dia lakukan. Setiap kali dia hendak ke toilet, dia selalu ijin ke supervisornya, sampai dia harus diingatkan, kalau dia tidak perlu ijin, jika hanya ingin ke toilet. Kenapa Brooks selalu ijin? Karena nyaris seumur hidupnya, Brooks selalu harus melaporkan segala gerak-geriknya. Itulah penjara.

Sampai suatu ketika dia menyerah, dan memilih untuk menggantung dirinya sendiri di apartementnya. Dengan sebelumnya menulis di dinding; BROOKS WAS HERE. Sebagai tanda, bahwa dia pernah berada di sana.

Kenapa Brooks sampai bunuh diri? Menurut saya sebagai penonton, adalah karena dia tidak merasa dibutuhkan, dan adalah karena dia merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi. Di dalam penjara, walau pun terkurung, Brooks punya pekerjaan sebagai penjaga perpustakaan penjara, dan dia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk membaca. Dan yang terpenting, adalah bahwa kehadirannya dihargai oleh orang lain. Dia merasa dibutuhkan. Apa yang dialami Brooks begitu ironis, ketika kebebasan justru mampu membuat seseorang merasa dipenjarakan.

Lalu, buat apa kita berjanji untuk hidup bersama sampai maut memisahkan, dengan seseorang yang bahkan kita tahu, kita bisa hidup tanpanya dengan baik, seseorang yang tidak pernah membuat kita berhasil untuk sekedar berpikir; takut kehilangannya? Itu kenapa, rasa saling membutuhkan, dan rasa saling ingin memiliki terkadang jauh lebih penting dari cinta itu sendiri. Bagi saya seperti itu. Cinta, tidaklah lebih tinggi derajatnya dari iman dan rasa saling membutuhkan.

Dibutuhkan, dan membutuhkan sesuatu, adalah kebutuhan manusia setelah bernapas dan makan. Agar bisa tetap bertahan hidup.

***


Membenci, adalah cara mengingat-ingat yang paling buruk. Coba saja.
(fa)

Saya pernah membenci seseorang dengan begitu kuat, tapi yang terjadi justru saya semakin merindukannya. Rasa rindu itu kemudian membuat saya terlihat begitu lemah di mata diri saya sendiri, itu yang kemudian malah membuat saya, justru jadi jauh lebih membenci diri saya sendiri. Ironis.

Detik itu saya tahu bahwa saya masih mencintai pria ini. Dan saya belum rela berhenti untuk merindukannya. Maka saya pun memilih untuk berhenti berusaha membencinya. Tidak akan ada move on yang bisa didapat lewat jalan itu, percayalah. Kamu hanya akan semakin rindu dan semakin rindu. Lalu semakin merasa buruk dengan dirimu sendiri.

Saya tidak mengerti kenapa cinta mampu membuat sesuatu yang sangat sederhana, menjadi begitu rumit untuk dijalani. Seperti sesederhana mengetik kalimat ‘Apa kabar?’, tapi dua kata yang  ingin kamu tujukan kepada mantanmu, ribuan kali kalimat itu kamu ketik, lalu kamu hapus. Kamu ketik, lalu kamu ubah kembali bunyinya. Kamu ketik, lalu lagi-lagi berakhir di kotak draft. Kamu ketik, lalu justru terkirim dengan bunyi; tes.

Hahaha.. betapa rumitnya ya kalimat ‘Apa kabar’. 8’))))))

Beberapa waktu kebelakang saya juga sempat memikirkan tentang seberapa besar ego mampu merugikan kita yang sedang jatuh cinta. Saya rasa cinta yang baik memang hanya ditujukan untuk mereka yang telah cukup dewasa untuk mengontrol ego yang ada di dalam diri mereka sendiri. Manusia yang memiliki ego tinggi seperti saya memang akan cenderung menelan cinta-cinta yang sulit. Begitu juga kamu yang memiliki ego tinggi, yang ketika mencemaskan seseorang yang pernah kamu sayangi, lebih mampu memilih diam dibanding menyisihkan ego untuk mengirim pesan; apa kamu baik-baik saja?

Saat ego jauh lebih besar dibanding kekhawatiranmu akan seseorang; so, don’t be dare to called yourself 'A GOOD LOVER'. Seperti kalimat yang sudah sering saya tulis, bahwa cinta itu bukan soal mencintai hal-hal yang kamu sukai (karena semua orang bisa melakukannya), tapi juga soal bersedia menerima dengan sepenuh hati, apa-apa yang sebelumnya adalah hal yang tidak bisa kamu terima. Maka ketika kamu bahkan belum bisa menyisihkan egomu untuk sekedar mengedepankan rasa pedulimu pada seseorang yang sedang kamu sayangi, cintamu adalah kekosongan semata.

Jadi jangan pernah sekali-kali kamu berani menyatakan kamu menyayangi atau mencintai seseorang, ketika kamu bahkan masih doyan memanjakan egomu. Cinta yang kekanak-kanakkan hanya akan menyakiti lebih banyak orang. Tidak baik, membiarkan oranglain jatuh cinta padamu dengan cara seperti itu. Jatuh cintalah, ketika kamu tahu, bahwa kamu akan mencintai orang itu dengan cinta yang baik dan sederhana. :)

Fin.
Fa. xoxo.